Selasa, 02 Maret 2010

GAYA BAHASA DALAM PROSA FIKSI


A. Pengertian Gaya Bahasa
Dalam kegiatan mengapresiasikan karya sastera, selain memahami isi dan bentuk, juga harus sampai pada menanggapi peeristiwa dan pelaku secara emotif dan merasakan serta menemukan keindahan bahasa pengarang. Salah satu cara pengarang mengekspresikan keindahan karangannya yaitu dengan plastic bahasa. Plastic bahasa adalah kekuatan kata atau bahasa untuk membentuk gambaran di benak seseorang yang mendengar atau membaca kata-kata itu (Tjahyono, 1988). Salah satu yang membentuk pengarang dalam membentuk plastic bahasa yang kuat adalah gaya bahasa.
Menurut HB Jassin, gaya bahasa adalah perihal memilih dan mempergunakan kata sesuai dengan isi yang mau disampaikan. Sedangkan menurut Nata Wijaya (1986:73), gaya bahasa adalah pernyataan dengan pola tertentu, sehingga mempunyai efek tersendiri terhadap pemerhati (pembaca atau pendengar).

B. Jenis Gaya Bahasa
Secara garis besar, gaya bahasa dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
1) Gaya bahasa perbandingan;
2) Gaya bahasa penegasan;
3) Gaya bahasa sindiran;
4) Gaya bahasa pertentangan;

1) Gaya bahasa perbandingan;
Sesuai dengan namanya gaya bahasa perbandingan adalah gaya bahasa yang berusaha membuat ungkapan dengan cara memperbandingkan suatu hal atau keadaan dengan hal atau keadaan yang lain.

• Ragam gaya bahasa perbandingan:
a) Gaya bahasa personifikasi;
Personifikasi adalah gaya bahasa yang menganggap benda-benda tak bernyawa mempunyai kegiatan, maksud dan nafsu seperti yang dimiliki manusia.
Contoh: Anak panah melangkah mencari mangsa.
b) Gaya bahasa metafora;
Metafora adalah gaya bahasa yang memperbandingkan secara langsung seustu hal atau keadaan dengan hal atau keadaan lain yang memiliki sifat, keadaan, atau perbuatan yang sama.
Contoh:
Dewi malam mulai memancarkan sinarnya (bulan)

c) Gaya Bahasa Asosiasi
Asosiasi perbandingan terhadap suatu benda yang sudah disebutkan sehingga menimbulkan asosiasi atau tanggapan dengan benda yang diperbandingkan itu, biasanya dinyatakan dengan kata bagai, seperti, laksana, bak, dan sebagainya.
Contoh:
Hidupnya seperti biduk kehilangan kemudi.

d) Gaya Bahasa Metonimia
Metonimia adalah gaya bahasa yang menyamakan sepatah kata atau nama yang memiliki hubungan dengan suatu benda lain yang merupakan merek perusahaan atau perdagangan. Atau menyatakan sesuatu langsung menyebut namanya.
Contoh:
Coba buka Gorys Keraf halaman 123 (buku karangan Gorys Keraf).

e) Gaya Bahasa Simbolik
Simbolik adalah gay bahasa yang menyamakan sepatah kata atau nama dengan kata atau nama benda lain.
Contoh:
Orang-orang merebutkan kursi kepala desa yang kosong (jabatan)

f) Gaya Bahasa Tropen
Gaya Bahasa Tropen adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang tepat dan sejajar artinya dengan pengertian yang dimaksud.
Contoh:
Tadi padi temanku sudah terbang ke Sumatera.

g) Gaya Bahasa Litotes
Adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang berlawanan arti atau mengurangi kenyataan untuk merendahkan diri sebagai gaya pelembut untuk mempersopan yang kena kepada dirinya sendiri.
Contoh:
Singgahlah ke gubug kami! (padahal rumahnya seperti istana)

h) Gaya Bahasa Eufemisme
Eufemisme adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata lain dari pengertian sebenarnya dengan maksud agar terdengar lebih sopan, agar jangan sampai melukai hati orang tersebut.
Contoh:
Maaf, saya mau ke belakang sebentar. (WC)

i) Gaya Bahasa Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal atau keadaaan secara berlebihan menggunakan kata-kata yang mengandung makna lebih hebat dari arti atau rasa yang sebenarnya.
Contoh:
Larinya secepat kilat.

j) Gaya Bahasa Sinedose
Gaya bahasa ini dibedakan menjadi dua macam:
• Sinekdose Pars Pro Toto, Yaitu gaya bahasa yang menyebutkan sebagian dari bagian hal tersebut namun yang dimaksud untuk keseluruhan.
Contoh:
Kalau ke pasar belilah tiga ekor ayam.

• Totem Pro Parte, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk sebagian, namun yang dimaksud untuk keseluruhan.
Contoh:
Desa itu diserah wabah flu burung.

k) Gaya Bahasa Alusio
Alusio adalah gaya bahasa yang memakai ungkapan, kiasan atau peribahasa yang sudah lazim dipakai orang.
Contoh:
Hidupnya seperti telur di ujung tanduk.

l) Gaya Bahasa Antonomasia
Antonomasia adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama orang dengan sebutan lain sesuai dengan cirri fisik dirinya atau watak orang tersebut, atau menyatkan sesuatu dengan menggunakkan kata majemuk posesif.
Contoh:
Apa si Gendut sudah makan?

m) Gaya Bahasa Perifrasis
Gaya bahasa Alegori adalah gaya bahasa yang dipakai dalam rangkaian tuturan secara keseluruhan.
Contoh:
Si jago merah telah pergi, tinggal asap menyapu runtuhan di Pasar Minggu.

2) Gaya Bahasa penegasan;
Gaya Bahasa Penegasan adalah gaya bahasa yang berusaha menekan pengertian suatu kata atau ungkapan.
Gaya bahasa perbandingan ini dibagi menjadi:
a. Gaya Bahasa Pleonasme
Pleonasme adalah gaya bahasa yang menjelaskan sebuah kata yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi karena sudah jelas pengertiannya.
Contoh:
Mereka mundur ke belakang.
b. Gaya Bahasa Paralelisme
Paralelisme adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengn perulangan kata atau kelompok kata di depan atau di belakang.
Contoh:
Ia cantik, cerdas, penuh pengertian dan memiliki segalanya yang diperlukan oleh seorang lelaki.

c. Gaya Bahasa Repetisi
Repetisi adalah gaya bahasa yang mengulang sepatah kata atau kelompok kata beberapa kali dalam kalimat yang berbeda.
Contoh:
Bukan harta, bukan panngkat, bukan kecantikan, melainkan budi bahasalah yang menarik perhatian itu.

d. Gaya Bahasa Tautologi
Gaya Bahasa tautology adalah gaya bahasa yang mengulang sepatah kata atau sekelompok kata beberapa kali dalam sebuah kalimat.
Contoh:
Disuruhnya aku bersabar, bersabar dan terus bersabar.

e. Gaya Bahasa Klimaks
Gaya bahasa Klimaks menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin hebat atau makin memuncak.
Contoh:
Rakyat di kampong, di desa, di kota mengibarkan Sang saka.

f. Gaya Bahasa Antiklimaks
Antiklimaks adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin melemah artinya.
Contoh:
Jangankan berdiri, duduk, bergerak pun aku tak bias.

g. Gaya Bahasa Asindenton
Yaitu gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan perincian tanpa kata sambung, atau menyatakaan beberapa hal berturut-turut tanpa memakai kata-kata penghubung.
Contoh:
Coba ambilkan bantal, selimut, untuk tamu kita.

h. Gaya Bahasa Polisindenton
Gaya Bahasa Polisindenton adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut dengan, memakai kata penghubung/ kata sambung yang sama.
Contoh: Setelah makan dan berpakaian dan mengisaap rokok sebatang barulah ia pergi.
i. Gaya Bahasa Enumerasi
Gaya bahasa ini dipakai untuk menyebutkan beberapa peristiwa yang membentuk kesatuan, dilukiskan bagian demi bagian supaya jelas.
Contoh:
Kau tak tahu siapa aku sebenarnya. Saya seseorang yang hina, yang diusir keluarga, yang tidak mempunyai alamat pasti.

j. Gaya Bahasa Interupsi
Ialah gaya bahasa penegasan yang mempergunakan kata-kata atau bagian kalimat sisipan di antara kalimat pokok, dengan maksud menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.
Contoh:
Ia-suami yang dicintainya- gugur dalam pertempuran.

k. Gaya Bahasa Retoris
Gaya Bahasa Retoris yang menggunakan kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban.
Contoh:
Mana mungkin orang mati hidup kembali.

l. Gaya Bahasa Koreksio
Koreksio adalah gaya bahasa yag berisi pembentukan apa yang diucapkan yang salah sebelumnya, baik disengaja maiupun tidak disengaja.
Contoh:
Dia sakit ingatan, eh maaf, dia sakit demam.

m. Gaya Bahasa Eksklamasio
Adalah gaya bahasa yang memaki kata-kata seru tiruan bunyi untuk menegaskan maksud.
Contoh:
Aduhai, indahnya pemandangan ini.

n. Gaya Bahasa Elipsi
Gaya bahasa ini yang menghilangkan satu unsure atau beberapa unsure kalimat, mungkin subyek, predikat, atau keterangan jadi gaya bahasa ini mempergunakan bentuk kalimat elips supaya penegasan jatuh pada kata-kata sisa yang disebutkan.
Contoh:
Rasain bekas tanganku! Mencuri lagi?

3) Gaya Bahasa sindiran;
Gaya Bahasa Sindiran adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyindir orang lain, dari sindiran halus sampai pada sindiran kasar sebagai ungkapan perasaan tak senang atau marah.
Gaya Bahasa Sindiran dibedakan menjadi tiga macam:
a) Gaya Bahasa Ironi
Dalam ironi dipakai kata-kata yang berlawanan dengan maksud sebenarnya.
Contoh:
Cepat benar kau pulang, masih jam dua malam.

b) Gaya Bahasa Sinisme
Hamper mirip dengan ironi, tetapi kata-kata yang dipergunakan sudah terdengar agak kasar.
Contoh:
Mual perutku melihat tampangmu.

c) Gaya Bahasa sarkasme
Merupakan gaya bahasa sindiran yang paling kasar.
Contoh:
Bangsat, berani benar kau menantangku!

4) Gaya Bahasa pertentangan;
Gaya bahasa pertentangan adalah gaya bahasa yang diungkapkan dengan jalan mempertentangkan suatu hal atau keadaan.
Ragam gaya bahasa pertentangan:
a) Gaya Bahasa Paradoks
Paradox adalah gaya bahasa yang terlihat seolah-olah ada pertentangan.
Contoh:
Di malam yang ramai ini, dia merasa kesepian.

b) Gaya Bahasa Kontradiksi in Terminis
Ialah gaya bahasa yang berisi ungkapan yang bertentangan dengan apa yang disebutkkan sebelumnya.
Contoh:
Tahun ini semua anak naik kelas, kecuali Badru.

c) Gaya Bahasa Antitesis
Antithesis adalah gaya bahasa pertentangan yang mempergunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Tua-muda, besar-kecil, lelaki-perempuan, berkumpul di tanah lapang ini.

PENDEKATAN DALAM APRESIASI PROSA FIKSI


Pendekatan apresiasi yang digunakan pembaca pada waktu mengapresiasi sastera lebih banyak ditentukan oleh :
1) Tujuan dan apa yang akan diapresiasi lewat teks sastera yang dibacanya,
2) Kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana, dan
3) Landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi.

Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi, dapat digunakan beberapa pendekatan, yakni:
o Pendekatan parafrastis,
o Pendekatan emotif,
o Pendekatan analitis,
o Pendekatan historis,
o Pendekatan sosiopsikologis, dan
o Pendekatan didaktis.
Pendekatan parafratis adalah strategi pemahaman kandungan karya sastera dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang dismpaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda digunakan pengarangnya.
Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastera adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsure-unsur yang merangsang emosi atau perasaan pembaca. Rangsangan emosi itu dapat berupa keindahan bentuk maupun emosi yang berhubungan dengan isi gagasan, alur, atau penokohan.
Pendekatan analitis adalah pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan dan mengimajinasikan ide-idenya, sikap pengarang, elemen intringsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen instringsik itu sehingga mampu membangunn adanya keselarasan dan kesatuan dalam membangun totalitas bentuk dan totalitas makna.
Pendekatan historis adalah pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biography pengarang, latar belakang, peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya karya sastera yang dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastera sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
Pendekatan sosiopsikologis adalah pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan social budaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya atau zamannya pada saat cipta sastera diwujudkan.
Pendekatan didaktis adalah pendekatan yang berusahaa menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluative maupun sikap pengarang terhadaap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai moral yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.*